|
PERJALANAN SUNYI BISMA DEWABRATA
PERJALANAN SUNYI BISMA DEWABRATA
KLIK DI SINI untuk menyimak nukilan beberapa bab dalam buku ini di Googlebooks.
Buku dalam format Ebook Acrobat PDF
Judul Buku : Perjalanan Sunyi
Bisma Dewabrata
Format : EbookNovel Acrobat PDF
Penulis : Pitoyo Amrih
Penerbit : Pitoyo Ebook Publishing
Tebal Halaman : 510 halaman
Lebar Halaman : 8.5 x 11 in
ISBN :
978-979-17910-0-7
Pendistribusian Ebook ini hanya dilakukan melalui Pitoyo Dotcom Webstore . Setiap Ebook akan diberi identitas eksklusif untuk menjamin pendistribusiannya.
Pembeli produk Ebook dari Pitoyo Dotcom Webstore akan mendapat jaminan produk seumur hidup. File ebook rusak atau hilang akan dikirim lagi secara cuma-cuma.
Pendistribusian Ebook dilakukan melalui e-mail. Perhatikan ejaan alamat e-mail secara benar saat pemesanan.
KLIK DISINI untuk pemesanan Ebook.
Ketika tahta Hastinapura yang menjadi
haknya, dilepaskannya.
Ketika dia bersumpah untuk tidak akan
pernah menikah, agar tak ada keturunannya yang menuntut tahta Hastinapura.
Apalagi tujuan hidup yang tersisa,
yang menjadi semangat hari demi hari menjalani hidupnya yang begitu lama.
Cerita tentang pengabdian Bisma
Dewabarata yang menjadi cermin kehidupan kita.
Simak penggalan kisah itu...
....Perlahan Jahnawi meletakkan sang bayi di atas batu besar itu. Tak lama
kemudian berdiri. Wajah Santanu tampak tegang, seperti semakin khawatir atas apa
yang akan dilakukan istrinya.
“..saatnya aku harus pergi kakang…, terima kasih telah menemaniku menjalani
semua ini,.. asuh baik-baik anak kita…” sejenak Jahnawi berhenti menarik nafas,
“..aku menamainya Dewabrata…”
Belum juga Santanu sempat membuka mulut dan melangkah maju, tiba-tiba dari
posisinya berdiri, Dewi Jahnawi melompat dengan posisi terlentang menuju ke arah
derasnya sungai Gangga. Hanya dalam sekejap tubuh Jahnawi sudah tak lagi nampak
tertelan ganasnya aliran sungai itu.
Santanu yang semula terbengong kali ini terlihat badannya gemetar dan
terjatuh pada posisi berlutut. Dia seperti tak kuasa lagi menahan
keterkejutannya atas apa yang baru saja dialaminya. Sementara sang bayi yang
bernama Dewabrata itu tak henti-hentinya menangis keras. Sekuat tenaga Santanu
setengah merangkak mendekati sang bayi. Derasnya air sungai itu terasa semakin
mengerikan bagi mata dan telinga Santanu. Dengan cepat ditariknya selimut sang
bayi, dan didekapnya erat-erat Dewabrata. Gemetar tubuh Santanu terlihat jelas
sambil memeluk Dewabrata yang tak henti-hentinya menangis.
Atau ketika kisah melegenda itu kembali terkuak,.. tewasnya Dewi Amba dari
tangan Bisma..!
....Dalam kegugupan yang tampak semakin hebat, Dewabrata serta merta begitu
cepat tangan kirinya menghunus busur panah, hampir bersamaan tangan kanannya
meraih satu anak panah, dan dengan gerakan yang begitu cepat dia menarik busur
dengan anak panah mengarah ke Amba. “..pulanglah, nimas..” kali ini Dewabrata
berkata setengah berteriak parau.
Tapi itu tak membuat Amba undur, dengan masih memegang terompah Dewabrata di
tangan kanannya, Amba kembali merangsek ke depan menyongsong anak panah. Ah!
Membuat Dewabrata semakin gugup tak tahu harus berbuat apa. Dan sekejab kemudian,
tangan kiri Amba justru meraih ujung anak panah pada busur yang terentang itu.
Membuat Dewabrata panik dan tanpa sengaja melepaskan pegangan pangkal anak panah
di tangan kanannya. Seketika itu anak panah meluncur deras merobek telapak
tangan kiri Amba, dan menghujam keras tepat ke dada Amba. Begitu kerasnya,
sampai Amba terlempar ke belakang, anak panah itu sampai menembus punggung,
menghujamkan tubuh Amba begitu keras ke tanah. Dan tak lagi bergerak, seketika
itu Dewi Amba tewas! Kejadian diluar dugaan yang begitu cepat! Begitu cepat
sehingga tak sempat terdengar jerit dari mulut Amba....
KLIK DISINI untuk pemesanan Ebook.
KLIK DI SINI untuk menyimak nukilan beberapa bab dalam buku ini di Googlebooks.
|